MANAJEMEN KONFLIK

 

Manajemen Konflik

Manajemen Konflik

Setiap kelompok dalam satu organisasi, dimana  didalamnya  terjadi interaksi antara  satu dengan  lainnya, memiliki kecenderungan timbulnya konflik. Pada dasarnya, berbagai rupa mekanisme pencegahan konflik dapat dibagi menjadi tiga grup, yaitu manajemen konflik, resolusi konflik dan transformasi konflik.

Konflik bisa jadi merupakan sumber energi dan kreativitas yang positif apabila dikelola dengan baik – konflik dapat menggerakan suatu perubahan :

  • Membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.
  • Memberikan saluran baru untuk komunikasi.
  • Menumbuhkan semangat baru pada staf.
  • Memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi.
  • Menghasilkan distribusi sumber tenaga yang lebih merata dalam organisasi.

Apabila konflik mengarah pada kondisi destruktif, maka hal ini dapat berdampak pada penurunan efektivitas kerja dalam organisasi baik secara perorangan maupun kelompok, berupa penolakan, resistensi terhadap perubahan, apatis, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif, berupa demonstrasi.

Strategi Manajemen Konflik (Nirman,1999) :

*) Strategi kompetisi, disebut juga strategi kalah menang, yaitu penyelesaian masalah dengan kekuasaan.

*) Strategi kolaborasi, atau strategi menang-menang yaitu pihak yang terlibat mencari cara penyelesaian konflik yang sama-sama menguntungkan.

*) Strategi penghindaran, yaitu strategi untuk menjauhi sumber konflik dengan mengalihkan persoalan sehingga konflik itu tidak terjadi.

*) Strategi akomodasi (strategi mengalah), adalah strategi yang menempatkan kepentingan lawan di atas kepentingan sendiri.

*) Strategi kompromi, yaitu strategi kalah-kalah pada pihak -pihak yang terlibat konflik sama-sama mengorbankan sebagian dari sasarannya dan mendapatkan hasil yang maksimal.

Konflik dapat dicegah atau dikelola dengan:

1. Disiplin: Mempertahankan disiplin dapat digunakan untuk mengelola dan mencegah konflik.  Jika belum jelas, mereka harus mencari bantuan untuk memahaminya.

2. Pertimbangan Pengalaman dalam Tahapan Kehidupan: Konflik dapat dikelola  untuk mencapai tujuan sesuai dengan pengalaman dan tahapan hidupnya.

3. Komunikasi: Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif. Suatu upaya yang dapat dilakukan manajer untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam kegitan sehari-hari yang akhirnya dapat dijadikan sebagai satu cara hidup.

4. Mendengarkan secara aktif: Mendengarkan secara aktif merupakan hal penting untuk mengelola konflik. Untuk memastikan bahwa penerimaan /pendengar telah memiliki pemahaman yang benar, untuk dapat merumuskan kembali permasalahan para pegawai sebagai tanda bahwa mereka telah mendengarkan.

6 Comments

  1. kok ada “manajer perawat”?
    Btw kalo saya dari sononya gak sabaran…. kalo esmosi ya hajar hajar sikaat😀

  2. maksudnya tuh, biar bisa merawat anda Mas…, biar ga’ osmosi-an, berabe kan…, so carilah istri yg multifungsi (+perawat – red) y, hehehe…
    btw, makasih koreksi & bantuannya. Sering2x j y …

  3. bu ira tambah gendut…

  4. hehee…, tau aja…. syukur Alhamdullilah, bisa gendut jg y saya…
    pastinya sama dunk, seperti anda, yang tambah ndut juga….

  5. walopun nduut tetep cantik kok

  6. […] MANAJEMEN KONFLIK February 2009 5 comments 4 […]


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s