Artikel – penelitian

EKSES  PEMANFAATAN TEKNOLOGI  INFORMASI  TERHADAP  PENGENDALIAN  DAN  AUDIT  SISTEM  INFORMASI  AKUNTANSI

Teknologi informasi telah menjadi fasilitator utama bagi kegiatan bisnis dan  memberikan andil besar di era millenia, terhadap perubahan yang mendasar pada struktur, operasi dan manajemen organisasi. Ekses dari teknologi informasi berpengaruh besar dalam proses bisnis internal organisasi. Teknologi Informasi (IT) merupakan komponen terpenting dari desain Sistem Informasi Akuntansi (SIA) yang dapat digunakan untuk memberikan penilaian maupun sebagai evaluasi cost and benefit dalam proses transaksi bisnis yang dilakukan oleh suatu organisasi.
Dalam Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) No.2, Financial Accounting Standards Boards mendefinisikan akuntansi sebagai system informasi, yang menyebutkan bahwa tujuan utama akuntansi adalah untuk menyediakan informasi yang berguna bagi para pengambil kepututusan. Penelitian ini berfokus pada bagaimana konsep pengendalian dapat diaplikasikan dalam SIA sesuai dengan prosedur pengendalian yang paling tepat untuk proses bisnis dalam suatu organisasi. Secara konseptual, pengendalian internal (internal control) merupakan rencana organisasi dan metode bisnis yang dipergunakan untuk menjaga aset, memberikan informasi yang akurat dan handal, mendorong dan memperbaiki efisiensi jalannya organisasi serta mendorong kesesuaian dan kebijakan yang telah ditetapkan.

Ekses Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pengendalian SIA

Dalam kaitannya dengan  SIA, infrastruktur teknologi informasi merupakan bagian dari komponen SIA yang telah mengubah cara pelaksanaan akuntansi dan bisnis lainnya. Ekses yang muncul dari implementasi teknologi informasi memungkinkan SIA memenuhi tiga fungsi pentingnya dalam organisasi (Romney dan Steinbart, 2003) yang meliputi :
1.    Pengumpulan dan penyimpanan data tentang aktivitas yang dilaksanakan oleh organisasi, sumber daya yang dipengaruhi oleh aktivitas – aktivitas tersebut, dan para pelaku yang terlibat dalam berbagai aktivitas, agar pihak manajemen, para pegawai dan pihak-pihak eksternal yang berkepentingan dapat meninjau ulang (review) hal-hal yang terjadi.
2.    Mengubah data menjadi informasi yang berguna bagi pihak manajemen untuk membuat keputusan dalam aktivitas perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan
3.    Menyediakan pengendalian yang memadai untuk menjaga aset – aset organisasi, termasuk data organisasi, untuk memastikan bahwa data tersebut tersedia saat dibutuhkan, akurat dan handal.
Struktur pengendalian internal terdiri dari kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk memberikan tingkat jaminan yang wajar atas pencapaian tujuan tertentu organisasi. Sedangkan pengendalian internal, melaksanakan tiga fungsi penting, yang diantaranya adalah :
a.    Preventive control –> pengendalian untuk pencegahan terhadap timbulnya suatu masalah, sebelum permasalahan tersebut muncul
b.    Detective control –> pengendalian untuk pemeriksaan yang dibutuhkan untuk mengungkap munculnya permasalahan
c.    Corrective control –> pengendalian korektif sebagai pemecahan masalah yang ditemukan oleh pengendalian untuk pemeriksaan
Secara umum, prosedur – prosedur pengendalian meliputi (1)aktivitas otorisasi transaksi dan kegiatan yang memadai, (2)pemisahan tugas yang mencegah para pegawai melakukan praktek tidak sehat, (3)desain dan penggunaan dokumen serta catatan yang memadai, (4)penjagaan aset dan catatan yang memadai dan pemeriksaan independen atas kinerja.
Berdasarkan penelitian COSO (Committee of Sponsoring Organizations) nmendefinisikan pengendalian internal sebagai proses yang diimplementasikan oleh dewan komisaris, pihak manajemen, dan mereka yang berada dibawah arahan keduanya, untuk memberikan jaminan yang wajar, bahwa tujuan pengendalian dicapai dengan mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi operasional organisasi, keandalan pelaporan keuangan, kesesuaian dengan hukum dan peraturan yang berlaku (Romney and Steinbart, 2003).

Ekses Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Audit SIA

Pemanfaatan IT dalam bisnis telah mengubah secara radikal tipe pekerja yang mengandalkan ketrampilan ke tipe pekerja yang mengandalkan pengetahuan (knowledge worker). Desain dan implementasi SIA memberikan kontribusi pada tujuan perusahaan. Efektivitas dan efisiensi dari proses transaksi bisnis membutuhkan teknik audit dan evaluasi pengendalian internal dalam SIA berbasis komputer. Dalam era jejaring ini, seorang auditor perlu memahami secara komprehensif tentang perubahan – perubahan fundamental yang terjadi sebagai akibat dari pemanfaatan teknologi informasi dalam bisnis, sehingga auditor memperoleh gambaran baru tentang lingkungan pengendalian (control environment) dalam perusahaan yang diauditnya (Mulyadi, 2002).
Audit membutuhkan pendekatan langkah per-langkah yang dibentuk dengan perencanaan teliti serta pemilihan dan pelaksanaan teknik yang tepat dengan hati – hati. Pendekatan yang lebih baru yaitu pendakatan melalui komputer (audit through the computer), menggunakan komputer untuk memeriksa kecukupan pengendalian system, data dan output. Menurut American Accounting Association merumuskan definisi umum mengenai audit yang mana audit merupakan proses sistematis, untuk secara objektif mendapatkan dan mengevaluasi bukti tentang pernyataan perihal tindakan dan transaksi bernilai ekonomi, untuk memastikan tingkat kesesuaian antara pernyataan dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta mengkomunikasikan hasil-hasilnya pada para pemakai yang berkepentingan.

Dalam melakukan audit atas sistem informasi, seorang auditor harus memastikan bahwa tujuan – tujuan audit dipenuhi dalam enam hal Tujuan (1)Keamanan keseluruhan  (2)Pengembangan program (3)Modifikasi program (4)Pemrosesan transaksi (5)Pengambilan dan input data sumber (6)Penyimpanan data. Berdasarkan perspektif, auditor internal  bertanggungjawab langsung untuk membantu pihak manajemen meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasional, termasuk membantu mendesain dan mengimplementasikan SIA yang memberikan kontribusi pada tujuan perusahaan. Secara garis besar, proses audit menggunakan urutan prosedur kegiatan yang terbagi ke dalam empat langkah berikut ; 1. Merencanakan Audit  2. Mengumpulkan Bukti 3. Mengevaluasi Bukti  4. Mengkomunikasikan Hasil

Pentingnya seorang auditor memahami berbagai kemungkinan yang merupakan ekses dari pemanfaatan IT dengan tipe konfigurasi sistem informasi komputer yang dijumpai dalam pekerjaan profesionalnya. Terdapat tiga tipe konfigurasi sistem informasi komputer (Mulyadi, 2002) yakni ;
1) stand-alone micro computer
2)    on-line computer system
3)    database system

Dari ketiga konfigurasi tersebut, auditor dituntut untuk mempertimbangkan penggunaan teknik berbantuan komputer, yang meliputi penggunaan perangkat lunak (audit software) dan penggunaan data uji (test data) untuk audit.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s